Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan

06 Mei 2011

Janganlah Pula Layu

Terbukti bahwa bank adalah bank. Sebahagian besar. Apapun namanya, betapapun indahnya rangkaian kata dalam motto dan visinya, bank adalah lembaga yang mengejar uang dengan uang. Memburu uang dengan kepeang. Pada umumnya pemilik bank hanya peduli dengan besarnya deviden. Selalu ada tekanan kepada direksi untuk memacu keuntungan dan meningkatkan deviden. Direksi yang berhasil menggelembungkan deviden, biasanya bernasib baik. Langeng jabatannya. Oleh karenanya Direksi bank pada umumnya lebih fokus untuk memburu laba. Akibatnya Kepala Divisi dan para manajer menengah pada setiap bank memainkan uang, "mengolah" NPL (Non Performing Loan) dan asset lainnya untuk memberikan sumbangan terhadap penggelembungan laba pada setiap akhir tahun. Lalu ada lagi berbagai cara dan mengembangkan macam-macam produk dengan prinsip "peluang fee". Bermacam cara diciptakan untuk mengeruk keuntungan yang besar dari nasabah. Di lapangan, para pemimpin cabang memastikan setiap kredit harus ada agunan. Agunan yang siap diambil alih bila ada tanda-tanda kemacetan kredit.


Para pemilik bank seolah tak peduli dengan pembentukan kewirausahaan, pengembangan bank atau pengembangan ekonomi rakyat karena yang mereka utamakan adalah laba. Laba, untung dan profit adalah kosa kata utama para pemilik bank. Oleh sebab itu, kredit konsumtif semakin tinggi jumlahnya. Dan banyak sekali namanya. Sebagian besar berbentuk nama samaran.


Masing-masing bank menciptakan nama produk yang bagus dan menarik serta sulit ditebak artinya agar aspek konsumtifnya tak kentara. Ada Kredit Mikro, Multiguna, Kopkar, Kretap, KTA, Implan, bahkan ada Murabahah Plus. Semua jenis kredit dengan berbagai nama itu utamanya adalah kredit konsumtif. Bahkan ada bank yang mentargetkan kredit untuk mengeruk uang dari para pensiunan. Subhanallah. Sudah bau tanah orang, masih dikejarnya. Bukan tak mungkin suatu saat nanti akan muncul kredit untuk orang yang telah mati. Bank asingpun tak ketinggalan. Produk-produk mereka yang menjerat rakyat semakin banyak. Terutama sekali di daerah.


Sesungguhnya, sah-sah saja bila bank memacu keuntungan melalui kredit konsumtif karena masyarakat juga membutuhkannya. Tapi harusnya setiap pemilik bank juga perlu merenungkan untuk apa sebuah bank itu sesungguhnya. Para pemilik juga harus menjiwai bahwa sesungguhnya bank itu berdagang dengan menggunakan uang orang lain. Uang rakyat karena modal pemilik hanya sebagian kecil yaitu sekitar 8% dari total asset. Selebihnya adalah tabungan, deposito dan giro milik rakyat. Artinya Pemilik bank berdagang dengan uang dari kantong orang lain. Oleh sebab itu, kepentingan rakyat banyak, kepentingan membesarkan bank itu sendiri serta kepentingan pertumbuhan ekonomi daerah harusnya menjadi sasaran utama agar penghasilan atau deviden yang diperoleh dari bank tidak menjadi subhat sifatnya.


Adalah juga fakta yang tak terbantahkan bahwa banyak bankir menjadikan rakyat kecil sebagai obyek penghasilan paling empuk. Ketidakpahaman rakyat akan perbankan dimanfaatkan oleh bankir secara cerdik untuk melipatgandakan keuntungan. Melalui berbagai cara yang hanya fokus pada pemupukan keuntungan. Buktinya keuntungan bank semakin besar, triliunan jumlahnya tapi nasib petani, pedagang, nelayan dan sejenisnya tetap sama. Tak berubah.


Semakin ke akar rumput jangkauan bank akan semakin kecil jumlah kredit tapi semakin tinggi bunga yang dibebankan. Bila kredit kepada konglomerat hanya dengan bunga 8% per tahun, kredit mikro mencapai 2,5 % perbulan. Bahkan kredit konsumtif dengan berbagai nama (meyamarkan aspek konsumtifnya) membebankan bunga sampai 4 % perbulan. Para bankir tak peduli dengan nasib rakyat yang tak berubah pada hal bank memperoleh keuntungan yang sangat tinggi. Rakyat, nasabah bank, tetap miskin, sedangkan bank beruntung triliunan. Apapun namanya bank adalah bank.


Lain lagi ulah bank asing. Citibank menggunakan algojo untuk menakut-nakuti rakyat yang berhutang. Rakyat menjadi korban. Karena kartu kredit dibebankan bunga yang sangat tinggi, jelas timbul kredit macet.


Filosofi Kemaslahatan Umat


Republik ini dan dunia butuh bank yang betul-betul pro-rakyat tapi tetap untung agar bisa berkembang. Tak mungkin bank dibiarkan memanfaatkan rakyat kecil sesukanya. Dan tak bisa pula bank menjadi lembaga sosial. Tapi jelas tak elok bila bank dibiarkan mencari keuntungan besar di atas penderitaan rakyat. Sudah saatnya pemerintah memastikan agar ada ukuran keberhasilan bank dalam (i) mengangkat nasib rakyat, (ii) menumbuhkembangkan jumlah dan kualitas usaha dan pengusaha dan (iii) memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan kualitas ekonomi. Tak mungkin bila bank dibiarkan hanya memburu laba dan mengejar deviden. Bank boleh mencari untung, dan harus, tapi harus juga ada Key Performance Indicator (KPI) dalam menyejahterakan rakyat. Khususnya di akar rumput.


Memang kita harus mulai dengan pemikiran bahwa bank adalah sebuah entiti bisnis. Untuk itu, bank harus beroperasi dengan pola pikir bisnis, beroperasi sesuai kaidah-kaidah bisnis yang sehat dan melakukan berbagai ikhtiar untuk memperoleh keuntungan. Tapi adalah tanggungjawab para pemilik bank (karena menggunakan dana rakyat) dan para manajemen bank serta semua pihak yang terlibat dalam operasional sebuah bank untuk mengembangkan usaha rakyat. Tidak hanya mengutamakan pembiayaan usaha miliknya. Bank harus membantu rakyat menggapai kemaslahatan.


Oleh sebab itu, bank juga harus memiliki ruh. Nilai-niai sufi yang tinggi untuk membangun kemaslahatan umat. Dalam mencari keuntungan dan mengembangkan usaha, bank harus memiliki karya-karya menjulang, ukuran prestasi dalam membangun usaha, mengembangkan usahawan dan menjangkau rakyat, standar moralitas, ukuran-ukuran keadaban serta idealisme kemanusiaan. Semua ini bisa dicapai bila semua yang terkait dengan organisasi dan manajemen serta operasional bank, baik langsung maupun tidak langsung, memilik kejujuran, kemampuan profesional dan motivasi kebersamaan yang tinggi serta idealisme yang sama.


Dalam kerangka inilah, Bank Indonesia Padang bersama Bank Nagari melakukan upaya ekstra untuk menjangkau rakyat di akar rumput. Merancang pinjaman untuk koperasi peternak sapi dan kaum akar rumput lainnya di berbagai daerah. Para petani itu tak akan pernah lolos sebagai calon nasabah bankable tanpa dijangkau oleh bank. Tanpa dibina dan dikembangkan terlebih dulu. Tanpa uluran tangan bankir yang punya hati. Tak mungkin seorang rakyat petani menjadi nasaban bank tanpa para bankir berupaya secara ikhlas turun ke lapangan, kekandang sapi, mencarikan kombinasi pembiayaan dengan bunga yang terjangkau. Artinya dari awal pola pikir dalam menjangkau rakyat ini adalah bahwa ini merupakan tanggung jawab moral pemilik, direksi dan pejabat bank yang berdagang dengan uang dari kantong orang lain. Ya tanggung jawab moral kita semua. Mudah-mudah contoh-contoh kecil yang telah dimulai oleh Bank Indonesia tidak menjadi judul lagu: Layu Sebelum Berkembang.

Hotel Judi Marina Bay Sands, Singapura.
Selengkapnya »

20 Desember 2010

Ramadhan dan Naluri Bisnis

Entah dari mana awalnya, hampir di setiap pelosok Ranah Minang, bulan suci Ramadhan identik dengan munculnya pedagang dadakan. Di pasar, di kantor-kantor, bahkan di jalanan. Di Padang, orang-orang bernaluri bisnis itu memadati pinggir-pinggir jalan utama. Ada yang menjual cemilan dengan berbagai bentuk. Sangat kreatif. Ada yang mempromosikan kue-kue lebaran walau puasa belum mulai. Ada yang menawarkan pakaian hari Raya. Pokoknya pedagang-pedagang instan berkibar.

Hebatnya lagi, banyak makanan yang mereka jual memliki cita rasa tinggi. Sero bana. Bahkan saya pernah menemukan berbagai camilan yang sangat enak di pinggiran jalan. Rasa yang tak sebanding dengan harga. Pedagangnyapun dari berbagai kalangan. Ada ibu rumah tangga, karyawan dan bahkan mahasiswa. Semua berjualan. Dari penampilan, kemungkinan banyak pula yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tercermin dari penampilan. Banyak yang berjualan dengan mobil.

Tapi uniknya setelah lebaran, para pengusaha instan ini menghilang. Kita tak tahu lagi dimana tempat membeli lapek bugih kesukaan selama Ramadhan. Kemana perginya sala lauak, es rumput laut, bubua kampiun dan lain-lain itu. Si "lamak bana" itu telah menghilang seiring kumandang Idul Fitri. Si pebisnis musiman yang cantik dan lincah di Jl. A. Yani itu mungkin bersiap-siap kembali ke bangku kuliah. Atau mencari pekerjaan golongan III A sebagai suaka kehidupan. Naluri bisnis itu seakan hilang ditelan hingar bingar beduk hari yang Fitri itu.

Kadang bagi saya jadi terpikir mengapa pemerintah atau asosiasi bisnis, yang waktu pelantikan pengurusnya selalu hiruk pikuk dengan baju seragam baru, tak merangkul mereka. Memupuk naluri dan kemampuan bisnis yang sudah mulai berkembang itu. Karena naluri bisnis itu sesungguhnya adalah aset Ranah Minang. Mengapa pemerintah tidak mengurangi seminar, studi banding dan sejenisnya, lalu memanfaatkan dana yang ada untuk membina pebisnis kuliner itu? Mengapa para ketua asosiasi bisnis tidak mampu (mau) menjangkau mereka? Atau mungkinkah ada perguruan tinggi yang bersedia menjadi pembina mereka?

Saya telah mencoba merangkul pebisnis-pebisnis kuliner mikro kecil di Kota Padang. Sebuah upaya kecil-kecilan. Ada tukang soto, tukang sate, tukang aie tawa, tukang cendol dan sejenisnya. Ternyata, temuan saya luar biasa. Kuliner Minang ini seharusnya dapat dijadikan sebagai keunggulan Sumbar. Bila dibina secara bisnis, bukan sebagai proyek, niscaya menjadi sebuah kekuatan ekonomi Sumbar yang dahsyat.

Hajjah Noraini, seorang pengusaha kuliner dan pemilik usaha makanan Malaysia yang sudah cukup besar bahkan meyakini kekayaan kuliner Sumbar ini sangat luar biasa. Ketika saya ajak berkunjung ke Minang Kuliner, di Jl. Veteran 69, Noraini sangat terkesan dengan variasi kuliner Minang. Dia menyatakan bahwa kalau di Malaysia, usaha seperti bisa dipastikan dibantu pendanaan atau peralatannya oleh kerajaan Malaysia. "Tak sulit dapat wang sepanjang usahanya jelas", jelas Noraini yang orang tuanya berasal dari Payokumbuah itu. Kapankah negeri kita tercinta ini bisa belajar dari Kerajaan itu? Kapan, kapan, kapan?

sebuah catatan kecil di bulan suci

Selengkapnya »

14 Mei 2010

Pasar, Pasa atau Pakan

Pasar adalah motor sistem ekonomi syariah yang sesungguhnya. Minimum ada 25 pasar yang senantiasa menjadi binaan Rasulullah. Beliau berkeliling dari satu pasar ke pasar yang lain. Berdagang dan membina para pedagang. Membina untuk meningkatkan kesejehateraan pedagang. Membantu mereka agar mampu meningkatkan usaha. Dan juga membina untuk meluruskan prilaku atau tabia't pedagang. Agar mereka lebih syariah. Yaitu (1) jujur dalam berjual beli dan (2) taat membayar hutang dan (3) bersungguh mengembangkan usaha. Karena kejujuran,ketaatan dalam membayar hutang dan kebersungguhan adalah fondasi moral dalam berdagang di jalan Rasulullah.

Secara historis, pasar juga menjadi ruh sistem perekonomian Ranah Minang. Pasar atau Pakan atau Pasa dalam istilah yang lebih akrab, hadir hampir di setiap nagari. Inilah keistimewaan Ranah Minang. Ada Pakan Sinayan, Pakan Salasa, Pakan Rabaa dan seterusnya. Inilah salah satu bukti bahwa ekonomi Ranah Minang sejatinya adalah ekonomi syariah. Hanya saja karena pengaruh penjajahan yang begitu lama, masyarakat Minang menjadi terbiasa dengan sistem ekonomi konvensional yang bersifat kapitalistik. Dan para pedagangpun lebih suka menjadi nasabah bank konvensional.

Ketika orang Minang merantau, mereka juga mencari Pakan. Hampir di semua pasar besar di DKI, urang awak adalah penghuni mayoritas. Di Kota Medan, misalnya, di 21 dari 25 pasar yang lumayan besar, urang awak menempati jumlah terbanyak. Inilah salah satu alasan saya menggagas "Program Bank Syariah Masuk Pasar" bersama Walikota Medan, Drs. Abdillah sejak tahun 2007. Disamping itu, pola pinjaman pedagang pasar tak bisa dipenuhi oleh bank. Bank menyatakan mereka non-bankable. Pedagang butuh dana jangka pendek, bahkan ada hanya untuk pinjaman satu hari karena ada barang "kantau". Untuk para pedagang di kota Medan, BMT adalah salah satu solusinya. Kami membantu pedagang membangun BMT milik pedagang, lalu bank syariah menyalurkan dana. Pedagang pasar butuh modal.

Di Ranah Minang, nasib orang pasar hampir. Berdagang turun temurun, jarang yang "naik kelas". Bank segan memberikan pinjaman. Ketika diundang sebagai pembicara oleh Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPSI) di Jakarta, saya mendapat keluhan dari para peserta yang mewakili semua propinsi di Indonesia. Keluhan mereka adalah bahwa bank tidak mempercayai mereka dan banyak pasar tradisional yang digusur dan dijadikan Mall oleh para Cukong yang bekerjasama dengan Pemerintah. Sebagian pasar tergusur oleh usaha Cukong. Sebagian pasar kebakaran. Secara berkala pula.

Dalam empat bulan terakhir bekerja di Sumbar, saya menerima tamu di Bank Indonesia dan berdiskusi dengan pedagang dari berbagai pasar. Saya juga berkunjung ke Pasa Pauah Kamba, Pasa Aua Kuniang, Sentra Pasar Raya, Pasa Batusangka, Pasa Padang Panjang,Pasa Payakumbuah, Pasa Solok, Pasa Bawah Bukittinggi dan lain-lain. Keluhan mereka hampir sama. Sebagian Pasar becek, kalau hujan kebanjiran. Pedagang kesulitan memperoleh modal kerja. Dan kalau ada yang memperoleh injaman dari bank, bunganya selangit. Ada juga yang terpaksa meminjam dari Rentenir dengan bunga mencapai 20% per bulan. Masya Allah.

Sesungguhnya banyak yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan pertumbuhan usaha pasar tradisional di Ranah Minang. Di Medan, saya mencoba dengan pendekatan lembaga keuangan mikro. Program ini membuktikan bahwa pasar tradisional mampu membangun lembaga keuangan sendiri yaitu BMT. Dana bank syariah mulai mengalir ke beberapa pasar. Tapi untuk ini dibutuhkan adanya asosiasi pedagang di setiap pasar. Kita tunggu asosiasi pedagang pasar tradisional yang berniat mengembangkan usaha anggotanya. Kita bisa duduk bersama. Kita butuh para pedagang yang memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan usaha pasar tradisional. Secara syariah tentunya.
Selengkapnya »

Mahasiswa, Wirausaha dan Syariah

Terkadang sebagai orang BI saya merasa “geli”. Saya ini bankir atau al-Ustadz. Atau Da’i tanpa ijazah dan tanpa sorban. Saya diundang keliling dari satu kampus ke kampus yang lain, dari satu kampung ke kampung yang lain. Untuk beri ceramah. Dari mesjid ke surau-surau. Dari satu pasar ke pasar lain. Topik utamanyanya adalah kewirausahaan dan ekonomi syariah. Mulai dari IAIN, Unand, UNP, UPI, Bung Hatta, STAIN dll. Bahkan Himpunan Haji, Perkumpulan Tionghoa di Pondok, jamaah Islam Kaffah bimbingan Prof. Dr. Salmadanis, pasar tradisional, para ulama yang berkumpul di Mungka ingin tahu tentang ekonomi syariah. Belum lagi berbagai Lembaga Keuangan Mikro. Sehingga menjadi “ustadz” ekonomi syariah menjadi pekerjaan utama yang sangat saya nikmati. Selain Pemimpin Bank Indonesia, tentunya. Alhamdulillah, ada sedikit manfaat diri ini pulang ke kampung halaman.

Yang sangat menyenangkan adalah ada semangat besar yang terkandung di dalamnya. Luar biasa. Orang Minang sangat berbeda dengan kondisi ketika saya meninggalkan Taluak Bayua 35 tahun lalu. Sekarang kewirausahaan mejadi bidang yang semakin digandrungi anak-anak muda. Ada sarjana (S2) menggeluti usaha ikan lele, istri mantan pejabat yang memproduksi kue-kue basah, PNS yang membangun restoran. Ya semua ingin belajar bagaimana membangun usaha, apa yang bisa dimanfaatkan dari ekonomi Rasulullah. Banyak juga mahasiswa yang berminat menjadi entrepreneur.

Saya bentuk Tim Usaha Mikro dan Tim Bank Syariah di BI Padang. Kantor saya dikunjungi banyak orang yang berminat membangun usaha berbasis syariah. Mulai dari tukang jagung bakar, petani lele, pedagang “Kentucky” Fried Chicken kaki lima sampai kepada anggota HIPMI, Kadin dan berbagai asosiasi profesional lainnya. Sangat menggembirkan bahwa orang Minang semakin mengikuti jejak Rasulullah.

Mungkin ini adalah jawaban terbaik untuk pesoalan ekonomi Ranah yang rata-rata air ini. Jujur, saya tidak melihat perbedaan yang berarti dari perekonomian Sumbar dari era-era sebelumnya. Ini fakta yang tak terbantahkan.. Profil Ekonomi Sumbar lebih banyak sebagai hasil pencitraan dari pada kondisi riil di lapangan. Hasil iklan di berbagai media massa bahwa daerah tertentu maju ekonominya. Tapi faktanya pertumbuhan ekonomi kita tertinggal dibanding hampir semua propinsi tetangga di Sumatra.

Munculnya minat untuk berwirausaha dan belajar ekonomi syariah dikalangan mahasiswa sungguh membesarkan hati. Inilah salah satu kunci untuk mencuatkan kinerja ekonomi Sumbar. Mengejar ketertinggalan. Adanya wirausahawan dengan pendidikan (educated entrepreneurs). Komunitas yang memiliki potensi bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas bisnis konvensional tapi juga masuk ke bidang usaha baru bahkan ke industri kreatif. Kita berharap para mahasiswa semakin tertarik untuk masuk ke dunia bisnis, bukan hanya dunia PNS.

Untuk kemajuan ekonomi Sumbar, kita berharap akan mucul perguruan tinggi yang membangun minat dan kemampuan mahasiswa berwiraswasta secara tersistem. Kita berharap agar kampus dijadikan kawah candra dimuka bagi para mahasiswa. Semoga muncul Campus Market. Dan perbankan serta dunia bisnis dijadikan sebagai partner. Dengan kata lain, Kampus, Perbankan dan Usaha rakyat menjadi tali tigo sapilin. Semoga!
Selengkapnya »

14 September 2009

Prospek Ekonomi dan Perbankan Sumatera Barat

Sejak krisis global melanda, dan memasuki triwulan III 2009 ini, pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan perlambatan dari 4,4% pada triwulan I-2009 menjadi 4,0% pada triwulan II-2009. Faktor eksternal yang mempengaruhinya antara lain kontraksi ekonomi global masih berlanjut, penurunan harga komoditas global cenderung tertahan, dan Inflasi global masih dalam tren menurun. Sedangkan faktor internalnya adalah stimulus fiskal (terutama di daerah) masih tertahan, dan perkembangan investasi belum bergairah.

Kondisi ekonomi terkini dinilai masih melambat. Ini bisa dilihat dari stabilitas Makroekonomi, yaitu :
-Inflasi: masih terkendali dan terus menurun. Lebih rendah dari rata-rata historis. Inflasi yoy (Jul’09) 2,71%.
–BI Rate telah diturunkan sebanyak delapan kali sejak Des 08 menjadi 6,50% (Agustus 09)
-Nilai tukar: masih bergerak stabil
Disamping itu, membaiknya kondisi makroekonomi menunjukkan pertumbuhan ke arah positif. Masih menariknya imbal hasil dan kondisi sosial-politik relatif stabil cukup membuat negara mampu menghasilkan cadangan devisa mencapai USD57,42 miliar

Kondisi Perekonomian Sumatera Barat
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat terus melambat, dari 5,82% menjadi 5,11% (y-o-y). Rebound harga minyak dan komoditas belum mengembalikan ekspor Sumbar. Tren ekspor Sumbar secara nilai masih menunjukkan tren yang menurun. Sektor pertanian melambat . Kinerja subsektor perkebunan masih tertahan. Di tingkat perusahaan, nilai penjualan dan volume produksi CPO PT Bakrie Sumatera Plantation yang sebagian produksinya dari Kab. Pasaman Barat menunjukkan penurunan sejak awal triwulan III-2008. Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang bulan April-Juni 2009 juga bergerak dalam arah penurunan. Sedangkan sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di Sumbar (46,55%).

Sejalan dengan pergerakan inflasi nasional, inflasi tahunan Kota Padang mengalami penurunan. Perlambatan inflasi dipicu oleh trend penurunan harga komoditas dan energi. Pertumbuhan pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) oleh bank umum masih tertahan meskipun perkembangan inflasi terus menurun. Penyaluran kredit oleh bank umum masih belum bergairah. Risiko kredit bank umum di Sumbar mengalami peningkatan, namun masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5% FDR bank umum syariah di Sumbar mencapai 155,54%(Juli 09). Dana yang ada tidak mencukupi pemenuhan kredit di wilayah Sumbar.

Setelah dilakukan identifikasi, ternyata beberapa komoditi telah dibiayai seperti karet, sapi, jagung, dan ikan kerapu. Bahkan sejak 2007 9 penelitian SKU telah dilakukan mengenai ikan kerapu di Pessel, sapi potong di Pasaman dan Tanah Datar, kakao di padang Pariaman, karet di Sijunjung dan Pasaman, ikan lele asap di Pasbar, jagung dan pakan ikan di Agam. Hasil penelitian telah disosialisasikan kepada perbankan dan pemerintah daerah. Namun, bank belum melirik processed agricultural product.

Strategi yang bisa diterapkan dapat berbentuk linkage program dan pengembangan cluster bisuness. Linkage program antara perbankan shariah dengan BMT, LKMS dan PINBUK di Sumatera Barat. Pengembangan cluster dicari yang waktu pencapaian target tidak terlalu lama (quick win).

Selain itu juga perlu adanya pengembangan revitalisasi perkebunan ke beberapa daerah potensial lainnya. Memfasilitasi berbagai pertemuan dengan dinas terkait, dan melakukan berbagai penelitian studi kelayakan usaha terkait dengan program pengembangan revitalisasi perkebunan di Sumbar.

Dari segi Perbankan, strategi yang dapat dikembangkan adalah sistem perekonomian syariah. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan sistem syariah ini akan menjadi solusi yg mumpuni demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.

Tulisan lengkap tentang materi ini dapat dilihat di link ini : Prospek Ekonomi dan Perbankan
Selengkapnya »