Tampilkan postingan dengan label Sakapua Siriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakapua Siriah. Tampilkan semua postingan

06 Mei 2011

Janganlah Pula Layu

Terbukti bahwa bank adalah bank. Sebahagian besar. Apapun namanya, betapapun indahnya rangkaian kata dalam motto dan visinya, bank adalah lembaga yang mengejar uang dengan uang. Memburu uang dengan kepeang. Pada umumnya pemilik bank hanya peduli dengan besarnya deviden. Selalu ada tekanan kepada direksi untuk memacu keuntungan dan meningkatkan deviden. Direksi yang berhasil menggelembungkan deviden, biasanya bernasib baik. Langeng jabatannya. Oleh karenanya Direksi bank pada umumnya lebih fokus untuk memburu laba. Akibatnya Kepala Divisi dan para manajer menengah pada setiap bank memainkan uang, "mengolah" NPL (Non Performing Loan) dan asset lainnya untuk memberikan sumbangan terhadap penggelembungan laba pada setiap akhir tahun. Lalu ada lagi berbagai cara dan mengembangkan macam-macam produk dengan prinsip "peluang fee". Bermacam cara diciptakan untuk mengeruk keuntungan yang besar dari nasabah. Di lapangan, para pemimpin cabang memastikan setiap kredit harus ada agunan. Agunan yang siap diambil alih bila ada tanda-tanda kemacetan kredit.


Para pemilik bank seolah tak peduli dengan pembentukan kewirausahaan, pengembangan bank atau pengembangan ekonomi rakyat karena yang mereka utamakan adalah laba. Laba, untung dan profit adalah kosa kata utama para pemilik bank. Oleh sebab itu, kredit konsumtif semakin tinggi jumlahnya. Dan banyak sekali namanya. Sebagian besar berbentuk nama samaran.


Masing-masing bank menciptakan nama produk yang bagus dan menarik serta sulit ditebak artinya agar aspek konsumtifnya tak kentara. Ada Kredit Mikro, Multiguna, Kopkar, Kretap, KTA, Implan, bahkan ada Murabahah Plus. Semua jenis kredit dengan berbagai nama itu utamanya adalah kredit konsumtif. Bahkan ada bank yang mentargetkan kredit untuk mengeruk uang dari para pensiunan. Subhanallah. Sudah bau tanah orang, masih dikejarnya. Bukan tak mungkin suatu saat nanti akan muncul kredit untuk orang yang telah mati. Bank asingpun tak ketinggalan. Produk-produk mereka yang menjerat rakyat semakin banyak. Terutama sekali di daerah.


Sesungguhnya, sah-sah saja bila bank memacu keuntungan melalui kredit konsumtif karena masyarakat juga membutuhkannya. Tapi harusnya setiap pemilik bank juga perlu merenungkan untuk apa sebuah bank itu sesungguhnya. Para pemilik juga harus menjiwai bahwa sesungguhnya bank itu berdagang dengan menggunakan uang orang lain. Uang rakyat karena modal pemilik hanya sebagian kecil yaitu sekitar 8% dari total asset. Selebihnya adalah tabungan, deposito dan giro milik rakyat. Artinya Pemilik bank berdagang dengan uang dari kantong orang lain. Oleh sebab itu, kepentingan rakyat banyak, kepentingan membesarkan bank itu sendiri serta kepentingan pertumbuhan ekonomi daerah harusnya menjadi sasaran utama agar penghasilan atau deviden yang diperoleh dari bank tidak menjadi subhat sifatnya.


Adalah juga fakta yang tak terbantahkan bahwa banyak bankir menjadikan rakyat kecil sebagai obyek penghasilan paling empuk. Ketidakpahaman rakyat akan perbankan dimanfaatkan oleh bankir secara cerdik untuk melipatgandakan keuntungan. Melalui berbagai cara yang hanya fokus pada pemupukan keuntungan. Buktinya keuntungan bank semakin besar, triliunan jumlahnya tapi nasib petani, pedagang, nelayan dan sejenisnya tetap sama. Tak berubah.


Semakin ke akar rumput jangkauan bank akan semakin kecil jumlah kredit tapi semakin tinggi bunga yang dibebankan. Bila kredit kepada konglomerat hanya dengan bunga 8% per tahun, kredit mikro mencapai 2,5 % perbulan. Bahkan kredit konsumtif dengan berbagai nama (meyamarkan aspek konsumtifnya) membebankan bunga sampai 4 % perbulan. Para bankir tak peduli dengan nasib rakyat yang tak berubah pada hal bank memperoleh keuntungan yang sangat tinggi. Rakyat, nasabah bank, tetap miskin, sedangkan bank beruntung triliunan. Apapun namanya bank adalah bank.


Lain lagi ulah bank asing. Citibank menggunakan algojo untuk menakut-nakuti rakyat yang berhutang. Rakyat menjadi korban. Karena kartu kredit dibebankan bunga yang sangat tinggi, jelas timbul kredit macet.


Filosofi Kemaslahatan Umat


Republik ini dan dunia butuh bank yang betul-betul pro-rakyat tapi tetap untung agar bisa berkembang. Tak mungkin bank dibiarkan memanfaatkan rakyat kecil sesukanya. Dan tak bisa pula bank menjadi lembaga sosial. Tapi jelas tak elok bila bank dibiarkan mencari keuntungan besar di atas penderitaan rakyat. Sudah saatnya pemerintah memastikan agar ada ukuran keberhasilan bank dalam (i) mengangkat nasib rakyat, (ii) menumbuhkembangkan jumlah dan kualitas usaha dan pengusaha dan (iii) memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan kualitas ekonomi. Tak mungkin bila bank dibiarkan hanya memburu laba dan mengejar deviden. Bank boleh mencari untung, dan harus, tapi harus juga ada Key Performance Indicator (KPI) dalam menyejahterakan rakyat. Khususnya di akar rumput.


Memang kita harus mulai dengan pemikiran bahwa bank adalah sebuah entiti bisnis. Untuk itu, bank harus beroperasi dengan pola pikir bisnis, beroperasi sesuai kaidah-kaidah bisnis yang sehat dan melakukan berbagai ikhtiar untuk memperoleh keuntungan. Tapi adalah tanggungjawab para pemilik bank (karena menggunakan dana rakyat) dan para manajemen bank serta semua pihak yang terlibat dalam operasional sebuah bank untuk mengembangkan usaha rakyat. Tidak hanya mengutamakan pembiayaan usaha miliknya. Bank harus membantu rakyat menggapai kemaslahatan.


Oleh sebab itu, bank juga harus memiliki ruh. Nilai-niai sufi yang tinggi untuk membangun kemaslahatan umat. Dalam mencari keuntungan dan mengembangkan usaha, bank harus memiliki karya-karya menjulang, ukuran prestasi dalam membangun usaha, mengembangkan usahawan dan menjangkau rakyat, standar moralitas, ukuran-ukuran keadaban serta idealisme kemanusiaan. Semua ini bisa dicapai bila semua yang terkait dengan organisasi dan manajemen serta operasional bank, baik langsung maupun tidak langsung, memilik kejujuran, kemampuan profesional dan motivasi kebersamaan yang tinggi serta idealisme yang sama.


Dalam kerangka inilah, Bank Indonesia Padang bersama Bank Nagari melakukan upaya ekstra untuk menjangkau rakyat di akar rumput. Merancang pinjaman untuk koperasi peternak sapi dan kaum akar rumput lainnya di berbagai daerah. Para petani itu tak akan pernah lolos sebagai calon nasabah bankable tanpa dijangkau oleh bank. Tanpa dibina dan dikembangkan terlebih dulu. Tanpa uluran tangan bankir yang punya hati. Tak mungkin seorang rakyat petani menjadi nasaban bank tanpa para bankir berupaya secara ikhlas turun ke lapangan, kekandang sapi, mencarikan kombinasi pembiayaan dengan bunga yang terjangkau. Artinya dari awal pola pikir dalam menjangkau rakyat ini adalah bahwa ini merupakan tanggung jawab moral pemilik, direksi dan pejabat bank yang berdagang dengan uang dari kantong orang lain. Ya tanggung jawab moral kita semua. Mudah-mudah contoh-contoh kecil yang telah dimulai oleh Bank Indonesia tidak menjadi judul lagu: Layu Sebelum Berkembang.

Hotel Judi Marina Bay Sands, Singapura.
Selengkapnya »

28 Desember 2010

Syariah Mencari Panglima

25 Agustus 2010. Saya kumpulkan semua pimpinan bank syariah yang ada di Sumbar di ruang kerja saya. Enam bank umum dan enam BPR. Mereka agak terkaget ketika saya minta masing-masing melaporkan kinerja selama saya bertugas jadi Pemimpin Bank Indonesia Padang. Yaitu sejak Agustus 2009. Jadi para bankir di jalan Rasulullah ini harus menunjukkan berapa besar peningkatan kinerja mereka selama 12 bulan. Pertanyaan saya adalah apakah perbankan syariah mampu berkembang di Ranah Minang ini? Atau ABS-ABK itu hanya kata pemanis ketika berpidato?

Sebagian dari wajah para bankir kekasih Azza Wajalla ini makin terperanjat ketika saya menyatakan data kinerja tersebut akan saya laporkan kepada Gubernur Sumbar yang baru. “Kita akan undang Gubernur buka bersama hari Kamis besok dan saya akan laporkan apakah ada kinerja perbankan syariah atau hanya antimun bungkuak dalam tatanan ekonomi Ranah Minang”, saya berkata dengan wajah bersungguh dengan nada suara agak meninggi.

Lumrah, ada dua reaksi. Bankir yang berprestasi tinggi, sumringah, yang kurang, terperangah. Karena kinerja dalam menjangkau rakyat, bukti pembiayaan usaha ummat, angka-angka pembiayaan ekonomi rakyat badarai adalah ukuran utama perbankan syariah. Tidak seperti perbankan konvensional yang sudah bisa berbangga ketika berhasil mengumpulkan dana rakyat (funding), bank syariah baru akan berbangga bila sudah mampu meningkatkan kemaslahatan ummat.

Saya mulai berdakwah. Para manajer bank syariah itu menjadi pendengar yang baik. Saya mulai dengan Fiqih Romeo Rissal Pandjialam. Tidak terlalu canggih, tapi cukup untuk membuat mereka merenung dan juga menyemangati para bankir itu untuk lebih memacu prestasi. Lebih memacu upaya menjangkau rakyat badarai, membiayai usaha-usaha kecil dan sejenisnya. Lalu ceramah saya berlanjut dengan ajakan. Ajakan untuk bersama-sama membangun usaha rakyat. Hanya dengan kebersamaan kita bisa mengembangkan sistem ekonomi syariah di Sumbar. Pencermatan saya selama satu tahun adalah bahwa ada jarak antara Pemda dengan Bank. Hal ini diakui oleh Bapak Gamawan Fauzi ketika saya pertama kali berkunjung ke kediaman beliau tahun lalu.

Saya melanjutkan dakwah. “Ya , ini era baru dengan Gubernur baru. Saya meyakini Gubernur baru ini sangat paham akan pentingnya membangun ekonomi berbasis syariah. Insya Allah beliau bersedia menjadi Panutan perjuangan menuju ekonomi Ranah Minang berbasiskan prinsip-prinsip syariah. Beliau sasurau dengan kita”, demikian saya semakin berceloteh dengan keyakinan bahwa ekonomi syariah akan berkibar. Agak sedikit sok tahu memang, karena ciloteh yang terakhir ini tak lain hanya berdasarkan feeling. Feeling yang tiba-tiba muncul ketika saya bersalaman dengan Profesor asli Kuranji itu untuk pertama kali ketika kebetulan bertemu di BIM. Entah kenapa, timbul sebuah keyakinan. Muncul sebuah bayangan bahwa ruh ekonomi syariah akan lebih menggeliat di Ranah yang saya yakini adat istiadat serta kehidupannya sudah bersandi syariah ini sedari dulu.

Hari berikutnya masing-masing Branch Manager bank syariah menyampaikan laporan. Kinerja satu tahun. Subhanallah. Luar biasa. Seorang Pandjialam bergumam. “Terbukti, Ranah Minang adalah lahan sangat subur untuk bank syariah”. Selama ini mungkin yang kurang adalah kebersungguhan saja. Buktinya, dalam waktu yang relatif pendek, bila kita bersungguh, ternyata pertumbuhan perbankan syariah sangat mengagumkan. Saya bahkan sempat melamun jauh ke depan. Timbul keyakinan yang lebih mendalam bahwa bila kita bersungguh, berbagai anggapan miring bahwa bank syariah sulit tumbuh di Ranah Minang, tertepis dengan sendirinya. Bayangkan dalam hanya 12 bulan, Juli 2009 sampai Juli 2010, prestasi bank syariah melejit. Mulai dari Asset melejit sampai 63,09%, DPK naik sampai 50,87%, pembiayaan juga mencapai 50,49% dan bahkan jumlah kantor sudah tidak hanya di tiga kota, Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Bank syariah sudah masuk ke kabupaten. Pertumbuhan yang cukup fenomenal. Alhamdulillah, sekali lagi, Ranah Minang terbukti sebagai lahan sangat subur untuk perbankan syariah.

Saudaraku. Pendek kata, harusnya tak ada lagi keraguan akan sistem ekonomi Rasulullah ini. Sebesar biji bayampun. Tak ada lagi komentar-komentar miring tentang perbankan syariah. Cermati dan renungkanlah angka-angka di atas. Inipun baru hanya langkah awal. Harusnya, tak ada lagi tanda tanya tentang keagungan konsep perbankan yang niatnya tak lain untuk kemaslahatan ummat. Perbankan syariah bukanlah bisnis korporasi yang berjiwa kapitalis yang hanya mengumpulkan kekayaan, bukan juga ekonomi yang neolib. Ia hadir untuk menjangkau rakyat badarai. Tinggal lagi di Ranah ABS-SBK ini, perbankan syariah masih mencari Panutan. Ekonomi syariah mencari Panglima yang akan berjalan di depan menunjukkan jalan. Panglima yang ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah, menunjukkan arah. Saya mengimani bahwa suatu saat Ranah Minang akan menjadi percontohan penerapan ekonomi syariah. Insya Allah.

Selengkapnya »

20 Desember 2010

Ramadhan dan Naluri Bisnis

Entah dari mana awalnya, hampir di setiap pelosok Ranah Minang, bulan suci Ramadhan identik dengan munculnya pedagang dadakan. Di pasar, di kantor-kantor, bahkan di jalanan. Di Padang, orang-orang bernaluri bisnis itu memadati pinggir-pinggir jalan utama. Ada yang menjual cemilan dengan berbagai bentuk. Sangat kreatif. Ada yang mempromosikan kue-kue lebaran walau puasa belum mulai. Ada yang menawarkan pakaian hari Raya. Pokoknya pedagang-pedagang instan berkibar.

Hebatnya lagi, banyak makanan yang mereka jual memliki cita rasa tinggi. Sero bana. Bahkan saya pernah menemukan berbagai camilan yang sangat enak di pinggiran jalan. Rasa yang tak sebanding dengan harga. Pedagangnyapun dari berbagai kalangan. Ada ibu rumah tangga, karyawan dan bahkan mahasiswa. Semua berjualan. Dari penampilan, kemungkinan banyak pula yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tercermin dari penampilan. Banyak yang berjualan dengan mobil.

Tapi uniknya setelah lebaran, para pengusaha instan ini menghilang. Kita tak tahu lagi dimana tempat membeli lapek bugih kesukaan selama Ramadhan. Kemana perginya sala lauak, es rumput laut, bubua kampiun dan lain-lain itu. Si "lamak bana" itu telah menghilang seiring kumandang Idul Fitri. Si pebisnis musiman yang cantik dan lincah di Jl. A. Yani itu mungkin bersiap-siap kembali ke bangku kuliah. Atau mencari pekerjaan golongan III A sebagai suaka kehidupan. Naluri bisnis itu seakan hilang ditelan hingar bingar beduk hari yang Fitri itu.

Kadang bagi saya jadi terpikir mengapa pemerintah atau asosiasi bisnis, yang waktu pelantikan pengurusnya selalu hiruk pikuk dengan baju seragam baru, tak merangkul mereka. Memupuk naluri dan kemampuan bisnis yang sudah mulai berkembang itu. Karena naluri bisnis itu sesungguhnya adalah aset Ranah Minang. Mengapa pemerintah tidak mengurangi seminar, studi banding dan sejenisnya, lalu memanfaatkan dana yang ada untuk membina pebisnis kuliner itu? Mengapa para ketua asosiasi bisnis tidak mampu (mau) menjangkau mereka? Atau mungkinkah ada perguruan tinggi yang bersedia menjadi pembina mereka?

Saya telah mencoba merangkul pebisnis-pebisnis kuliner mikro kecil di Kota Padang. Sebuah upaya kecil-kecilan. Ada tukang soto, tukang sate, tukang aie tawa, tukang cendol dan sejenisnya. Ternyata, temuan saya luar biasa. Kuliner Minang ini seharusnya dapat dijadikan sebagai keunggulan Sumbar. Bila dibina secara bisnis, bukan sebagai proyek, niscaya menjadi sebuah kekuatan ekonomi Sumbar yang dahsyat.

Hajjah Noraini, seorang pengusaha kuliner dan pemilik usaha makanan Malaysia yang sudah cukup besar bahkan meyakini kekayaan kuliner Sumbar ini sangat luar biasa. Ketika saya ajak berkunjung ke Minang Kuliner, di Jl. Veteran 69, Noraini sangat terkesan dengan variasi kuliner Minang. Dia menyatakan bahwa kalau di Malaysia, usaha seperti bisa dipastikan dibantu pendanaan atau peralatannya oleh kerajaan Malaysia. "Tak sulit dapat wang sepanjang usahanya jelas", jelas Noraini yang orang tuanya berasal dari Payokumbuah itu. Kapankah negeri kita tercinta ini bisa belajar dari Kerajaan itu? Kapan, kapan, kapan?

sebuah catatan kecil di bulan suci

Selengkapnya »

02 Desember 2010

Gubernur Baru, Untuk Sebuah Asa Yang Tersisa

September 2005. Aku menulis di Padang Ekpres. Antara lain berharap agar Bank Nagari membuka unit syariah. Bank Nagari menjadi “prime mover” ekonomi kerakyatan Sumbar. Karena aku mengimani bahwa ekonomi Ranah Minang pada hekekatnya adalah ekonomi berbasis syariah. Cukup lama kita menanti bank milik urang awak ini terbuka hatinya untuk bersyariah dalam bisnis.

Agustus 2009, Allah mentakdirkan aku bertugas di Bank Indonesia Padang. Alhamdulillah, pulang kampung, aku menemukan unit syariah di Bank Nagari. Tertatih-tatih, memang. Bersyukur dan sekaligus sangat gundah. Apa pasal? Aset Bank Nagari Syariah hanya Rp62 miliar. Sangat kecil untuk ukuran sebuah bank. Di Sumbar ini bahkan ada BPR dengan aset sama. Di Medan, dimana aku pernah menjadi perantau, Rp62 miliar adalah nilai satu rekening dari seorang nasabah pengusaha keturunan Cina di bank syariah.

Tak pelak lagi, sejak akhir tahun 2009, aku minta komitmen pengurus Bank Nagari. Tertulis, agar meyakinkan. Bersungguh dengan syariah atau tak usah sama sekali. Alhamdulillah, pengurus Bank Nagari menyatakan akan bersungguh dengan perbankan syariah. Ini penting, karena begitulah ajaran luhur agama kita. Manjadda wajada. Ketidakbersungguhan dalam banyak hal merupakan penyebab utama mengapa negeri ini masih dengan tingkat kesejahteraan rata-rata air. Tak mungkin ada keberhasilan tanpa kebersungguhan.

Kebersunguhan”, juga permintaanku kepada jajaran Bank Sumut ketika aku menjadi Pemimpin Bank Indonesia Medan 2006-2009. Akhirnya, semua cabangnya dijadikan unit syariah. Ditunjuk Direktur Syariah. Petugasnya dilatih ilmu perbankan syariah. Ada berbagai proyek ekonomi kerakyatan yang dilakukan Bank Sumut Syariah secara bersungguh. Adak kluster sapi di Langkat, kluster singkong di Serdang Bedagai, BMT untuk pedagang di Pasar Petisah, pembinaan entrepreneur muda dan banyak lagi yang lain-lain.

Januari 2010. Bersyukur, Bank Nagari juga membuktikan kebersungguhan itu. Semua cabang Bank Nagari sudah menyediakan pelayanan perbankan syariah. Ada rekrutmen untuk Account Officer (AO) syariah. Ada pelatihan dan bahkan aku diminta menjadi Instruktur di Lapau Gadang. Ada pasukan bermotor untuk KUR Syariah. Direksi berinisiatif dengan target pertumbuhan sangat tinggi untuk tahun 2010. Di atas 300% untuk mengejar ketertinggalan. Subhanallah. Target tertinggi untuk sebuah bank yang pernah aku kenal. Sebuah komitmen dan semangat yang luar biasa dari bank yang kita harapkan mampu menjadi Leader untuk perbankan syariah. Kalau tidak, bank ini akan tertinggal jauh dari dua BPD lain yang juga di bawah pengawasanku. BPD Riau dan BPD Jambi. Wakil Gubernur kedua Provinsi tersebut sudah berbicara denganku untuk lebih fokus pada perbankan syariah. Dua Wagub yang paham akan peran perbankan sayriah untuk ekonomi rakyat mereka.

Tapi Sumbar memang beda dengan Sumut. Perbedaannya adalah bahwa di negeri yang penduduk non-Muslimnya lebih dari 30% itu, Bank Sumut Syariah mendapat banyak partner di Pemda. Banyak kawan. Partner yang tidak hanya di mimbar atau di lembaran pidato yang kerap dibacakan para asisten, tapi di lapangan. Di dunia nyata, di kebun singkong rakyat, kebun sawit rakyat, di daerah peternakan, di pasar-pasar tradisional dan sejenisnya. Sejak Gubernur Rudolf Pardede yang notabene Kristiani sampai kepada Gubernur Syamsul Arifin yang Pak Haji, Wali Kota Medan, Bupati Serdang Bedagai, Padang Sidimpuan, Mandailing Natal dan lain-lain. Para petinggi daerah ini mengajak aku ke daerah mereka untuk membangun dengan jasa perbankan syariah. Tapi di Ranah Minang, subhanallah. Belum satupun. Tak mudah mencari kawan dalam syariah di negeri ABS-SBK ini.

Juli lalu, Azwar Anas, mantan Gubernur yang masih sangat intens berusaha memajukan ekonomi Sumbar, mengunjungi aku di kantor. Mungkin tanpa menyadari bahwa aku adalah mantan PBI Medan, beliau bercerita bagaimana majunya perbankan syariah di Sumut. Suara beliau bangga dan wajah sumringah. Terang, aku turut bangga. Dan beliau berharap agar Sumbar mampu mengikuti jejak Sumut itu. Dan ketika aku jelaskan bahwa BPR syariahpun enggan lahir di Padang kota tercinta, beliau terperanjat. Terperangah, persisnya. Alhasil, beliau meniatkan untuk melahirkan BPR syariah pertama di Kota Padang. Alhamdulillah, aku dapat partner pertama. Seorang mantan penguasa.

Saudaraku. Tolong tunjukkan aku jalan. Nasihat aku. Ajari aku. Sedekahi aku kiat. Aku tunggu nasihatnya di: romeorissal@gmail.com. Atau tulis nasihat atau idenya di FES ini. Bagaimana caranya mendapatkan partner syariah di Pemda dalam rangka membumikan perbankan syariah di negeri ABS-SBK ini. Bagaimana caranya mendapatkan Bupati atau Walikota yang dengan mata hati jernih melihat perbankan syariah sebagai motor pembangunan ekonomi rakyat. Bagaimana caranya mengajak pedagang pasar masuk ke bank syariah. Apa rahasianya agar pengusaha Pondok, yang dalam kehidupan sehari-hari sangat menyatu sebagai orang Minang, tidak melihat bank syariah itu hanya untuk orang Muslim. Tidak membatasi diri pada bank-bank besar saja. Di Medan tak terasa persepsi itu. Banyak pengusaha keturunan Cina masuk bank syariah. Karena bank syariah adalah bank yang universal. Rahmatalil’alamin.

Tapi saudaraku. Tetap masih ada keyakinan dalam diri ini bahwa Sumbar akan mampu menjadi leader dalam pengembangan ekonomi syariah. Suatu hari nanti. Bank Nagari menjadi Bank Regional terkemuka sampai ke negeri Semiblan, Selangor seperti kami cita-citakan sejak 15 tahan lalu. Ketika aku diminta gubernur Hassan Basri Durin sebagai konsultan, merancang masa depan bank milik Pemda ini. Ketika BPD Sumbar kami beri gelar Bank Nagari. Ketika, 15 tahun lalu itu, bank ini kami jadikan BPD satu-satunya dan yang pertama merantau keluar provinsi. Membangun tiga cabang di Jakarta.

Dunsanakku. Asa itu tetap ada. Bank Nagari menjadi Bank Regional. Leader dalam perbankan syariah. Ada asa akan munculnya partner dalam syariah. Ada Bupati baru, Walikota baru. Bahkan ada Gubernur baru untuk sebuah asa yang tersisa. Insya Allah.

Bukittinggi, sebuah doa menjelang Ramadhan.

Selengkapnya »

28 November 2010

Syariah Menjangkau Rakyat

Bagi yang membaca FES edisi 30 Juli 2010, tentu akan melihat dua tulisan bagus mengenai perkembangan syariah di Sumbar. Pertama bagaimana BRI Syariah dalam 10 bulan terakhir melejit asetnya hampir berkali-kali lipat di bawah Pemimpin Cabang baru, Ir. Alfred Dianto (Aldi). Ini dicapai karena BRI Syariah bersungguh menjangkau rakyat. BRI Syariah meyakini bahwa masyarakat Minang adalah masyarakat syariah. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Kedua, tulisan dari BPR Syariah. Bagaimana mereka mengelola usaha rakyat dengan hati. Alhamdulillah.

Kedua tulisan ini sungguh berarti. Bila bank bersungguh, rakyat merespon. Artinya bila bank lebih pro aktif, rakyat merespon. Respon yang luar biasa. Di kota Padang, misalnya, saya meyakini akan muncul BPR Syariah dalam waktu dekat.

Perlu kita akui bahwa selama ini perbankan di Sumbar lebih banyak fokus pada usaha-usaha menengah ke atas. Yaitu seperti usaha sawit dan CPO, dealer-dealer besar, toko-toko besar, usaha di sekitar Pondok dan sejenisnya. Dari data bank terlihat bahwa usaha-usaha di kabupaten, pasar tradisional dan pelaku UKM belum terjangkau oleh perbankan Sumbar.

Di perbankan syariah Sumbar sudah ada kesepahaman untuk lebih menjangkau rakyat. Bank Nagari Syariah sudah membentuk pasukan KUR lengkap dengan sepeda motornya. Bank Syariah Mandiri (BSM) sudah memberikan contoh penanganan usaha rakyat mulai dari ternak lele sampai koperasi. Yang sangat perlu kita upayakan secara bersungguh adalah bagaimana membentuk kelompok-kelompok pelaku UKM atau pengusaha yang siap dan dipersiapkan untuk bisa dijangkau oleh bank syariah.

Setiap asosiasi atau perkumpulan yang berkunjung ke BI Padang, saya selalu menawarkan peluang ini. Saya tawarkan kepada HIPMI, KNPI, MES, FOSSEI, AISEC, UNP, IAIN, UNAND, STAIN, UPI, TP3P dan lain lain. Yaitu peluang untuk menjadi mitra bank syariah. Sebahagian asosiasi atau lembaga merespon dengan baik sebagian mungkin masih merenung. Dua diantara yang merespon adalah KNPI dan PGRI. KNPI komit untuk membangun minimarket berbasis syariah. Sedangkan PGRI komit membangun kemampuan kewirausahaan para guru dan pensiunan. Tanggal 31 Juli yang lalu, PGRI juga telah mengadakan pertemuan di gedung Bank Indonesia. Temanya sangat menarik "Wirausaha untuk Mewujudkan Masa Depan yang Bermakna".

Guru dan pensiunan guru sesungguhnya adalah calon wirausaha syariah yang sangat bagus. Kita tunggu hasil pertemuan para guru dan pensiunan guru ini. Semoga pahlawan tanpa nama ini berada di depan. Dalam membumikan ekonomi syariah di Ranah Minang. Bravo para guru. Bravo syariah!

Selengkapnya »

24 November 2010

Cakap Medan Tentang Sumbar

Payah kali awak cari data di sini. Mana yang benar ini. Para bankir di Sumbar mengeluh. Cakap mereka tak enak pulak di kuping. "Sulit kali nyari perusahaan yang akan diberi kredit di Sumbar", keluh para bankir ketika rapat bersama awak di markas BI Padang. Nah lho, apa pulak ini? Di satu pihak rakyat kemanapun awak pergi mengeluhkan sulitnya dapat uang dari bank, dilain pihak para bankir mengeluh pulak demikian. Nah lho?. Apa ada dua Sumbar kali? Tapi uniknya pulak, para kepala Pemda, di koran-koran, sehalaman penuh lengkap dengan foto-foto berwarna berkumandang bahwa ekonomi daerah mereka maju. Maju sekali. Semua berhasil di banyak bidang. Mana yang benar ini? Apa ada tiga Sumbar?

Cakap Medan itu yang terang-terang saja. Kalau setiap Kepala Daerah "manapuak dado" ekonomi daerah mereka maju, kenapa pulak pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun 2009 hanya 4,2%. Apa tak ada hubungannya? Kemana perginya kemajuan ekonomi kabuptan/kota itu ya? Atau mungkin kata Advertorial itu artinya "harapanku" atau "di seberang sana". Bahkan awak prediksi kalau Gubernur terpilih 2010 tak punya terobosan ekonomi, apalagi manakala dana bantuan gempa triliunan tak beres pulak, ekonomi Sumbar akan tumbuh hanya sekitar 3%. Ala mak. Padahal Jambi awak tengok berpotensi untuk tumbuh sampai 8%. Nah lho?

Mulai dari penghujung 2005, awak diundang pak Gamawan untuk bercakap di RPJP Sumbar di Tri Arga. Awak usulkan agar Sumbar bikin "kemampuan dagang" yang teramat kondang itu sebagai sasaran utama pembangunan. Awak usulkan pulak agar perguruan tinggi dan perbankan dirangkul dan dijadikan motor pengembangan SDM kewirausahaan itu. Cantik kali kan? Konon menurut Prof Helmi dan Dr. Syafrudin Karimi ada ditulis di RPJP kala itu. Satu Fatsal. Alhamdulillah. Tapi lima tahun kemudian awak pulang kampung, tak ketemu pulak data kemajuan atau kemunduran upaya mengembangkan kewirausahaan itu. Tak jelas pulak hasilnya. Tak ada yang tahu cemana barang itu sekarang. Kata seorang kawan, RPJP itu mungkin artinya Rencana Penulisan Janji Pemimpim. Ala mak, janganlah gitu. Tak lemak pulak awak di kampung sendiri.

Perguruan tinggi, perbankan dan pemerintah harusnya bersinergi membangun kewirausahaan. Tali tigo sapilin. Mantap kali itu. Mengapa tak terjadi? Kata kawan awak, Perguruan tinggi sibuk mencetak sarjana, Pemda beradvertorial dan Perbankan merenung. Pada hal menurut Website Dikti sudah lebih 1/2 juta sarjana yang nganggur. Menurut Deputi Menteri UKM, DR. Choirul Djamhari, yang awak undang bicara di BI minggu lalu dalam rangka memberikan beasiswa dengan harapan kewirausahaan, lebih dari 1 juta Sarjana nganggur. 1/2 juga itu hanya yang melapor ke Dikti. Nah lho.

Awak pernah bahas persoalan "bakat dagang dan perguruan tinggi" ini dengan Prof. DR. Fasli Jalal.Dua kali. Pertama di kantornya di Jakarta dan kedua sambil makan lamak di Palanta Minang, Pantai Padang. Anak Padang Panjang yang sekarang jadi Wakil Mendiknas ini menanggapi sangat atusias. Berapi-api dia. Dan bahkan katanya Mendiknas ada program kewirausahaan. Nah lho. Kenapa di Ranah Dagang ini tak bergema? Berdesirpun tidak.

Ada memang satu atau dua perguruan tinggi yang mulai menggeliatkan kewirausahaan. Ada mata kuliah. Ada berbagai pengusaha kondang dari Jakarta masuk kampus. Ada Dikti beri dana 1 milyar ke Kopertis. Tapi mengapa tak ada yang bersungguh, membangun, katakanlah, sebuah "Sistem Pengembangan Bakat Dagang" bersama Pemda dan perbankan. Pada hal menurut awak, kemapuan dagang ini adalah pemberian Allah yang sangat berharga untuk rakyat Sumbar. Emas bagi Papua, batu bara bagi Kaltim dan minyak bagi Riau, tak sehebat kemampuan dagang bagi Ranah Minang. Mudah-mudahan awan tak kan jadi pungguk merindukan bulan menanti perguruan tinggi dan Pemda yang bersungguh membangun sistem pengembangan kemampuan dagang sebagai salah satu terobosan pembangunan ekonomi di Sumbar. Perbankan siap sebagai bagian dari tali tigo sapilin. Insya Allah!

Selengkapnya »

19 November 2010

Ranah Minang dan Syariah yang Terenyahkan


Ketika memberikan ceramah tentang ekonomi syariah di STAIN Batusangkar, 8 Juni 2010 lalu, saya mendapat berbagai pertanyaan kritis antara lain mengapa ekonomi syariah kurang berkembang di Ranah Minang. Mahasiswa dari program S1 Ekonomi Syariah di Luhak Nan Tuo itu ternyata sangat kritis. Dengan agak sedikit emosi (bukan hanya Rocker, Bankir juga manusia), saya menjawab:

“Inilah yang sangat saya gundahkan. Saya sedihkan. Ketika saya menjadi pemimpin BI di Medan, saya mendapat respon yang luar biasa dari berbagai pihak: Pemda, perguruan tinggi, pengusaha dan pemuka masyarakat. Bahkan Muhammdiyah, Tarbiyah, Nasbandiyah, Kadin, HIPMI, KNPI, pemuda mesjid dan sejenisnya, guyub. Bahkan seorang Rudolf Pardede, umat Kristiani, sangat responsif terhadap syariah setalah saya jelaskan di rumahnya dan secara agak demonstratif beliau membuka rekening di BTN Syariah Medan. Foto sang Gubernur yang memegang buku tabungan syariah bersama saya mucul di halaman semua media massa di Medan. Aksi nyata seperti itu turut memacu perkembangan ekonomi syariah di Sumut. Disini, di kampung halamanku yang amat aku cintai ini, tak tampak respons yang serupa itu. Mendekatipun tidak. Bahkan tak ada Cagub, Cabub dan Ca..ca.. lainnya yang muncul berkampanye dengan niat dan program tersistem untuk membumikan ekonomi syariah di Ranah yang selalu kita banggakan, dengan filsafah adat bersandi syarak dan syarak bersandi Kitabullah ini. Jangan-jangan filsafah itu sudah mulai merantau pulak ke Medan.

Jawaban saya disambut riuh dan kontan menuai berbagai pertanyaan yang lebih tajam dari para mahasiswa lainnya. Diskusi kami yang sangat menarik itu menjadi terhenti karena adzan berkumandang. Namun saking menariknya ekonomi syariah, kami tetap berdiskusi sambil menikmati gulai kambing paling enak di Asia Tenggara, di warung sederhana di Desa Sugai Torok.

DR. Syukri Iska mantan Ketua STAIN, ahli fiqih yang sama-sama doyan gulai kambing dengan saya, ternyata memiliki minat yang tinggi tentang Ekonomi Syariah. Santapan paruik lipek, usus bapilin, paruik asam, aie kawa dingin dan bahasan tentang ekonomi syariah berkecamuk. Nye’mat.

Tapi jujur, harus kita akui bahwa respon terhadap penerapan ekonomi syariah secara nyata di lapangan sangat lamban. Slowly but not sure. Kita bicara ekonomi, ya bicara kegiatan nyata di lapangan. Bukan ceramah di mimbar tinggi atau pidato panjang lebar di podium.

BPR Syariahpun seolah enggan lahir di Ranah Minang ini. Kota Padang yang katanya bertajuk Islami ini, tak punya satupun BPR Syariah. Masya Allah. Kalah pulak dengan Medan. Padahal, bank syariah itu menguntungkan. Kantor cabang Bank Muamalat mencapai titik break event point (BEP) hanya dalam waktu satu tahun di Denpasar, Bali. Di Bali, gitu loh!

Satu-satunya entitas Sumbar yang bereaksi secara riil dan agak masif di lapangan adalah Bank Nagari. Kita patut bangga. Bank milik Urang Awak ini semakin bersungguh dengan perbankan syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah (UUS) dan merekrut pegawai khusus (Account Officer/AO) untuk pelayanan syariah di 23 kantor cabangnya.

Kinerja Bank Nagari, saya ukur secara periodik. Ukuran-ukurannya jelas. Yaitu peningkatan jumlah aset bank, pembiayaan (kredit) dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Kemudian, peningkatan Laba di akhir tahun. Ini sebuah komitmen tinggi kepada Bank Indonesia dari Dewan Komisaris yang dikomandani oleh mantan Sekda, Yohannes Dahlan dan Dewan Direksi yang dinakhodai oleh niniak mamak urang Solok, Suryadi Asmi Dt.Rajo Nan Sati. Lembaga lainnya di Sumbar? Tak ubahnya seperti tulisan-tulisan di dinding belakang truk Padang-Jakarta: Kutunggu jandamu.

Lembaga lain yang telah ikut secara nyata dalam bentuk syiar ekonomi syariah adalah Padang Ekspres. Media terbesar Sumbar ini memenuhi permohonan saya untuk menggunakan satu halaman penuh setiap Jumat sebagai wadah sosialisasi ekonomi syariah. Sahabatku, Ajo Sutan Zaili, Komandan Besar Padang Ekspres Group Sumbar, menyerahkannya sebagai amal. Kalau bahasa Medannya: “Selimperpun aku tak bayar”.

Alhamdulillah. Wartawan sangat senior nan sasurau, jebolan Kompas dimaksud turut menyiarkan sistem ekonomi Rasulullah ini. Sebagai Editor dari Forum Ekonomi Syariah, yaitu halaman “menuju jalan ke surga” ini, hatikupun cukup miris. Saya cukup kesulitan mencari orang yang rela bersedekah ilmu. Sangat susah mencari tulisan tentang ekonomi syariah di Ranah Minang ini. Tapi tulisan tentang Luna Maya. Cut Tari dan Ariel Peterpan bergentayangan. Ya Allah berikanlah kami petunjuk-Mu (3x).

Selengkapnya »

30 September 2010

Kiblat

Renungan Seorang Romeo Rissal Pandjialam


Terkadang terbayang oleh saya, mungkin beginilah perasaan seorang Hatta pada zaman kemerdekaan dulu. Dikelilingi urang awak. Hampir semua pemikir hebat dan pejuang kemerdekaan adalah orang Minang. Tapi, perlu kita akui secara jujur, semua ahli/konsultan/praktisi ekonomi syariah yang saya sebutkan di atas adalah Minang perantauan. Oleh sebab itu, sejak 2005, saya memimpikan dan berdoa agar lahirlah ahli dan praktisi ekonomi syariah di Ranah Minang sendiri. Di ranah yang adatnya bersandi syarak, dan syaraknya bersandi Kitabullah. Ranah yang sangat patut menjadi kiblat pengembangan sistem ekonomi syariah.

Bulan November 2005 saya menulis di Harian Padang Ekspres dengan judul "Menggagas Minangkabau Inc". Tulisan itu, juga menyarankan agar Bank Nagari membangun pelayanan perbankan syariah. Pada bulan Desember 2005, saya diundang Gubernur Sumbar untuk berbicara di lokakarya RPJM. Lalu, saya diundang lagi sebagai pembicara pada lokakarya Visi Sumbar 2025. Tahun-tahun sebelumnya diundang beberapa kali menjadi dosen tamu di program S2 oleh UNP. Lalu ada seminar di IAIN Imam Bonjol. Saya tetap membawakan lagu yang sama. Irama yang konsisten. Yaitu jalan menuju kesejahteraan bagi rakyat Sumbar adalah sistem perekonomian syariah.

Sungguh, kita berharap dan berdoa agar Sumbar menjadi kiblat pengembangan ilmu ekonomi syariah dan percontohan implementasi ekonomi syariah yang sesungguhnya. Nilai-nilai dan praktik ekonomi syariah sesungguhnya sudah hidup dalam berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat Minang. Dalam pikiran saya, sesungguhnya Minangkabau itu adalah syariah. Ruh syariah itu tumbuh dalam kehidupan masyarakat Minang. Banyak sekali contoh praktik ekonomi syariah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Perlu kita renungkan, apabila kita tidak bersungguh, Sumut berpotensi menjadi kiblat pengembangan ilmu ekonomi syariah. Perkembangan perbankan syariah di Sumut sangat bagus. Sudah tumbuh dan aktif pula berbagai lembaga, asosiasi dan kegiatan ekonomi berbasis syariah. Di Sumut pula, telah lahir seorang Profesor Ilmu Ekonomi Islam pertama, Prof. DR. Amiur Nuruddin. Sebuah pengakuan keilmuan oleh pemerintah terhadap ekonomi syariah sebagai body of knowledge melalui seorang putra Minang, asli Banuhampu.

Di tatanan industri, saya mencermati adanya kesempatan besar untuk menjadikan Bank Nagari menjadi dua bank yaitu bank konvensional dan bank syariah. Di tatanan pemerintahan, mudah-mudahan saya tidak berhalusinasi bahwa pemprov, kabupaten/kota di Sumbar juga mulai menjalankan prinsip ekonomi syariah. Merancang Perda ekonomi syariah dengan niat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Melarang praktik rentenir yang menyengsarakan umat. Bersungguh, mengelola pasar tradisional karena pasar rakyat itu merupakan jantung ekonomi syariah. Mudah-mudahan ada pemda yang membangun BPR syariah atau Lembaga Keuangan Mikro berbasis syariah lainnya. Sudah saatnya kita mendeklarasikan bahwa fondasi ekonomi Sumbar adalah ekonomi syariah. Sudah saatnya pula kita memulai perjalanan untuk menjadikan Sumbar sebagai kiblat penerapan sistem perekonomian syariah. Insya Allah!
Selengkapnya »

14 Mei 2010

Pasar, Pasa atau Pakan

Pasar adalah motor sistem ekonomi syariah yang sesungguhnya. Minimum ada 25 pasar yang senantiasa menjadi binaan Rasulullah. Beliau berkeliling dari satu pasar ke pasar yang lain. Berdagang dan membina para pedagang. Membina untuk meningkatkan kesejehateraan pedagang. Membantu mereka agar mampu meningkatkan usaha. Dan juga membina untuk meluruskan prilaku atau tabia't pedagang. Agar mereka lebih syariah. Yaitu (1) jujur dalam berjual beli dan (2) taat membayar hutang dan (3) bersungguh mengembangkan usaha. Karena kejujuran,ketaatan dalam membayar hutang dan kebersungguhan adalah fondasi moral dalam berdagang di jalan Rasulullah.

Secara historis, pasar juga menjadi ruh sistem perekonomian Ranah Minang. Pasar atau Pakan atau Pasa dalam istilah yang lebih akrab, hadir hampir di setiap nagari. Inilah keistimewaan Ranah Minang. Ada Pakan Sinayan, Pakan Salasa, Pakan Rabaa dan seterusnya. Inilah salah satu bukti bahwa ekonomi Ranah Minang sejatinya adalah ekonomi syariah. Hanya saja karena pengaruh penjajahan yang begitu lama, masyarakat Minang menjadi terbiasa dengan sistem ekonomi konvensional yang bersifat kapitalistik. Dan para pedagangpun lebih suka menjadi nasabah bank konvensional.

Ketika orang Minang merantau, mereka juga mencari Pakan. Hampir di semua pasar besar di DKI, urang awak adalah penghuni mayoritas. Di Kota Medan, misalnya, di 21 dari 25 pasar yang lumayan besar, urang awak menempati jumlah terbanyak. Inilah salah satu alasan saya menggagas "Program Bank Syariah Masuk Pasar" bersama Walikota Medan, Drs. Abdillah sejak tahun 2007. Disamping itu, pola pinjaman pedagang pasar tak bisa dipenuhi oleh bank. Bank menyatakan mereka non-bankable. Pedagang butuh dana jangka pendek, bahkan ada hanya untuk pinjaman satu hari karena ada barang "kantau". Untuk para pedagang di kota Medan, BMT adalah salah satu solusinya. Kami membantu pedagang membangun BMT milik pedagang, lalu bank syariah menyalurkan dana. Pedagang pasar butuh modal.

Di Ranah Minang, nasib orang pasar hampir. Berdagang turun temurun, jarang yang "naik kelas". Bank segan memberikan pinjaman. Ketika diundang sebagai pembicara oleh Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPSI) di Jakarta, saya mendapat keluhan dari para peserta yang mewakili semua propinsi di Indonesia. Keluhan mereka adalah bahwa bank tidak mempercayai mereka dan banyak pasar tradisional yang digusur dan dijadikan Mall oleh para Cukong yang bekerjasama dengan Pemerintah. Sebagian pasar tergusur oleh usaha Cukong. Sebagian pasar kebakaran. Secara berkala pula.

Dalam empat bulan terakhir bekerja di Sumbar, saya menerima tamu di Bank Indonesia dan berdiskusi dengan pedagang dari berbagai pasar. Saya juga berkunjung ke Pasa Pauah Kamba, Pasa Aua Kuniang, Sentra Pasar Raya, Pasa Batusangka, Pasa Padang Panjang,Pasa Payakumbuah, Pasa Solok, Pasa Bawah Bukittinggi dan lain-lain. Keluhan mereka hampir sama. Sebagian Pasar becek, kalau hujan kebanjiran. Pedagang kesulitan memperoleh modal kerja. Dan kalau ada yang memperoleh injaman dari bank, bunganya selangit. Ada juga yang terpaksa meminjam dari Rentenir dengan bunga mencapai 20% per bulan. Masya Allah.

Sesungguhnya banyak yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan pertumbuhan usaha pasar tradisional di Ranah Minang. Di Medan, saya mencoba dengan pendekatan lembaga keuangan mikro. Program ini membuktikan bahwa pasar tradisional mampu membangun lembaga keuangan sendiri yaitu BMT. Dana bank syariah mulai mengalir ke beberapa pasar. Tapi untuk ini dibutuhkan adanya asosiasi pedagang di setiap pasar. Kita tunggu asosiasi pedagang pasar tradisional yang berniat mengembangkan usaha anggotanya. Kita bisa duduk bersama. Kita butuh para pedagang yang memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan usaha pasar tradisional. Secara syariah tentunya.
Selengkapnya »

Mahasiswa, Wirausaha dan Syariah

Terkadang sebagai orang BI saya merasa “geli”. Saya ini bankir atau al-Ustadz. Atau Da’i tanpa ijazah dan tanpa sorban. Saya diundang keliling dari satu kampus ke kampus yang lain, dari satu kampung ke kampung yang lain. Untuk beri ceramah. Dari mesjid ke surau-surau. Dari satu pasar ke pasar lain. Topik utamanyanya adalah kewirausahaan dan ekonomi syariah. Mulai dari IAIN, Unand, UNP, UPI, Bung Hatta, STAIN dll. Bahkan Himpunan Haji, Perkumpulan Tionghoa di Pondok, jamaah Islam Kaffah bimbingan Prof. Dr. Salmadanis, pasar tradisional, para ulama yang berkumpul di Mungka ingin tahu tentang ekonomi syariah. Belum lagi berbagai Lembaga Keuangan Mikro. Sehingga menjadi “ustadz” ekonomi syariah menjadi pekerjaan utama yang sangat saya nikmati. Selain Pemimpin Bank Indonesia, tentunya. Alhamdulillah, ada sedikit manfaat diri ini pulang ke kampung halaman.

Yang sangat menyenangkan adalah ada semangat besar yang terkandung di dalamnya. Luar biasa. Orang Minang sangat berbeda dengan kondisi ketika saya meninggalkan Taluak Bayua 35 tahun lalu. Sekarang kewirausahaan mejadi bidang yang semakin digandrungi anak-anak muda. Ada sarjana (S2) menggeluti usaha ikan lele, istri mantan pejabat yang memproduksi kue-kue basah, PNS yang membangun restoran. Ya semua ingin belajar bagaimana membangun usaha, apa yang bisa dimanfaatkan dari ekonomi Rasulullah. Banyak juga mahasiswa yang berminat menjadi entrepreneur.

Saya bentuk Tim Usaha Mikro dan Tim Bank Syariah di BI Padang. Kantor saya dikunjungi banyak orang yang berminat membangun usaha berbasis syariah. Mulai dari tukang jagung bakar, petani lele, pedagang “Kentucky” Fried Chicken kaki lima sampai kepada anggota HIPMI, Kadin dan berbagai asosiasi profesional lainnya. Sangat menggembirkan bahwa orang Minang semakin mengikuti jejak Rasulullah.

Mungkin ini adalah jawaban terbaik untuk pesoalan ekonomi Ranah yang rata-rata air ini. Jujur, saya tidak melihat perbedaan yang berarti dari perekonomian Sumbar dari era-era sebelumnya. Ini fakta yang tak terbantahkan.. Profil Ekonomi Sumbar lebih banyak sebagai hasil pencitraan dari pada kondisi riil di lapangan. Hasil iklan di berbagai media massa bahwa daerah tertentu maju ekonominya. Tapi faktanya pertumbuhan ekonomi kita tertinggal dibanding hampir semua propinsi tetangga di Sumatra.

Munculnya minat untuk berwirausaha dan belajar ekonomi syariah dikalangan mahasiswa sungguh membesarkan hati. Inilah salah satu kunci untuk mencuatkan kinerja ekonomi Sumbar. Mengejar ketertinggalan. Adanya wirausahawan dengan pendidikan (educated entrepreneurs). Komunitas yang memiliki potensi bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas bisnis konvensional tapi juga masuk ke bidang usaha baru bahkan ke industri kreatif. Kita berharap para mahasiswa semakin tertarik untuk masuk ke dunia bisnis, bukan hanya dunia PNS.

Untuk kemajuan ekonomi Sumbar, kita berharap akan mucul perguruan tinggi yang membangun minat dan kemampuan mahasiswa berwiraswasta secara tersistem. Kita berharap agar kampus dijadikan kawah candra dimuka bagi para mahasiswa. Semoga muncul Campus Market. Dan perbankan serta dunia bisnis dijadikan sebagai partner. Dengan kata lain, Kampus, Perbankan dan Usaha rakyat menjadi tali tigo sapilin. Semoga!
Selengkapnya »

19 Maret 2010

Menanti Ekonomi Rasullah

PERAN MEDIA MASSA sangat dibutuhkan untuk sebuah proses sosialisasi. Tak terkecuali untuk mendorong pengembangan Ekonomi dan Perbankan Syariah di Sumbar. Tak akan banyak gaungnya apapun yang kita lakukan tanpa dukungan media massa. Bahkan akan sangat konterproduktif bila kita bersosialisasi sesuatu sedangkan media menulis hal yang berbeda. Medialah yang menabuh gendang, mencipta gaung, dan media juga yang membangun citra.

Tatkala media telah merasa satu dalam cita dan senada dalam irama, insya Allah upaya pengembangan Ekonomi Syariah akan semakin solid. Informasi akan mengalir deras, mengusung sebuah proses edukasi alamiah kepada masyarakat. Menjangkau sampai ke akar rumput. Menyentuh rakyat badarai. Suaranya akan merambat menerobos sekat-sekat sosial dengan gaung resonansi yang sulit untuk diraba namun terasakan. Itulah media massa.

Peranan media tak tergantikan. Ketika kawan-kawan wartawan di Sumbar dengan antusias memuat berita Ekonomi Syariah secara serempak, bahkan ikut belajar ekonomi syariah sampai nun jauh di sana, di Padang Gantiang, menambah keyakinan kita bahwa pengembangan Ekonomi Syariah adalah berada pada jalan yang tepat.

Ketika para kuli tinta yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (Forum WEB Sumbar) mengadakan pertemuan di Lapau Itiak Lado Hijau di bawah teriknya panas Kota Padang untuk membahas pembentukan usaha berbasis syariah, semakin tumbuh keyakinan kita bahwa Ekonomi Syariah mulai menapak bumi.

Ketika para ulama se-Sumatera yang berkumpul di Mesjid Syech Muhammad Saad, di Mungka, mengundang saya memberikan ceramah tentang Ekonomi Syariah, semakin terasa bahwa kita sudah berada di jalan yang benar.

Walaupun masih dengan persepsi beragam, Ekonomi Syariah mulai menjadi topik pembicaraan menarik bagi masyarakat. Karena dalam sistem ekonomi Syariah, terkandung secercah harapan perbaikan kesejahteraan hidup yang tak kunjung tergapai.

Sekarang tinggal lagi kita menanti partisipasi nyata para pelaku Ekonomi Syariah untuk mendukung semakin semaraknya upaya syiar. Termasuk semakin bersinarnya halaman Forum Ekonomi Syariah ini. Kita menanti partisipasi perbankan syariah, asuransi syariah, lembaga gadai syariah, lembaga ventura dan perusahaan-perusahaan berbasis syariah lainnya mendukung syiar ekonomi Rasulallah ini.

Kita menanti dukungan Pemerintah Daerah terhadap pembumian Ekonomi Syariah di Ranah Minang. Kita menanti (atau bermimpi) bahwa suatu saat nanti ada Pemda di Ranah Minang yang menjadikan ekonomi syariah sebagai basis pembangunan ekonomi daerah. Kita menanti berbagai upaya, kreatifitas dan inovasi dalam rangka membesarkan kue ekonomi syariah.

Kita menanti tulisan, opini, kritikan atau cerita-cerita sukses nasabah yang mengikuti usaha berbasis syariah. Kitapun menanti siapapun untuk berpromosi, membangun citra perusahaan atau lembaga di halaman yang berniat tulus ini. Kita menanti..... Insya Allah.
Selengkapnya »

Terjerat Rentenir : Kisah Nyata Di Ranah Beribu Surau

Siang itu panas menyengat. Kampung tengah mulai menuntut haknya setelah pertemuan dengan ASBOPAR (Asosiasi Bordir Pariaman) di kantor BI Padang. Seperti biasanya kami mencari tempat makan. Biasanya warung-warung ampera. Kami melihat warung nasi kecil dengan tulisan “Itiak Lado Hijau” tertulis di spanduk kecil yang sudah lusuh. Kamipun mampir. Dengan sigap si ibu pemilik warung menyajikan Itiak Lado Hijau, Dendeang Balado, Baluik Goreang Kariang, Jariang Mudo, Ikan Tandeman dan Sayua ala Kapau. Semua nikmat. Dendengnya enak sekali. Mungkin yang paling enak yang pernah saya cicipi di Ranah Minang. Renyah dan gurih. Tapi Itiak Lado Hijaunya, kurang pas. “Kurang Koto Gadang”, komentar saya. Si Ibu agak kaget. Sang suami tersenyum. Agak kecut.

Seperti biasa, saya langsung bertindak sebagai konsultan tanpa bayar. Bersedekah ilmu. Saya tawarkan kepada si Ibu untuk mamparancak raso Itiak Lado Hijaunya. Dia dan suaminya sangat gembira. Pendek cerita, kali ketiga kami datang, Itiak Lado Hijau-nya memiliki rasa yang “mangguncang dunia”. Kamipun menjadi pelanggan tetap. Terakhir, saya bawakan Gulai Kapalo Ikan Sisiak untuk dicontohnya. Si Ibupun mampu membuatnya. Cerdas dan cekatan meman. “ Lamak bana”, ciloteh salah satu anggota Tim Ekonomi Syariah kami.

Karena kami menjadi pengunjung setia, Si Ibu mulai bercerita tentang keluarga, usaha dan bahkan penderitaannya. Warung itu untuk menghidupi 4 anaknya. Tapi ada yang sangat mengejutkan kami. Si Ibu memulai usaha dengan pinjaman dari Rentenir, Rp 30 juta. Setiap bulan dia harus membayar bunga sebanyak 20%. Yaitu Rp. 6 juta. Dia hanya mampu membayar bunga, sedangkan pinjaman pokok tak mampu dicicilnya. Praktis si Ibu tak menikmati untung usaha. Masya Allah. Masya Allah. Masya Allah. Ini terjadi di Ranah Beribu Surau. Untuk bulan terakhir ini si Ibu hanya mampu membayar Rp 4 juta. Sang Rentenirpun murka. Lalu muncul peringatan keras melalui sms:

Aku masih sabar. Sekedar info saja, sebenarnya aku sudah bicarakan dengan polisi. Ini sudah termasuk modus operandi penggelapan pasal 378 KUHP. Tapi lantaran aku masih ingin berbuat baik, aku kasih kesempatan. Kalau tak dibayar akhir minggu ini, aku akan lanjutkan BAPnya. Sekedar tau saja kalau aku lanjutkan, semakin besar biaya yang akan kau keluarkan

Mungkin hanya ada di Ranah Minang, seorang Rentenir mengancam dengan KUHP. Berbicara BAP. Dan mengaku “berbuat baik” dengan memberikan pinjaman 30 juta untuk keuntungan 6 juta perbulan. Dalam 6 bulan saja, sang Rentenir mencapai BEP (Break Even Point), alias pulang pokok. Enak kali rupanya. Inilah sebabnya maka Al-Quran melarangnya. Dengan tegas dinyatakan dalam Al-Quran bahwa nasib Rentenir akan lumpuh di hari tua. Sebagian akan berprilaku seperti orang lupa ingatan.

Si Ibu Itiak Lado Hijau melompat-lompat kegirangan ketika kami tawarkan PinjamanKu dengan bunga hanya 6% pertahun. Total bunga yang harus dibayar dalam setahun hanya Rp. 1.800.000. Matanya berlinang. Syaratnya sederhana. Si calon peminjam harus belajar prinsip-prinsip ekonomi Syariah. (Silahkan baca Forum Ekonomi Syariah di Padeks setiap Jumat). Si Ibu Itiak Lado Hijau menadahkan kedua tangannya sambil melihat ke atap rumbia warungnya. Sang suamipun ikut bahagia dan memeluk istrinya karena terhindar dari kewajiban bunga Rp. 6 juta per bulan. Alhamdulillah.....
Selengkapnya »

Tarimo Kasih ka "Nan Sa-Surau"

80% lebih ekonomi Sumbar ditopang oleh usaha rakyat atau UKM. Tapi justru sektor inilah yang kurang mendapat perhatian. Pelaku UKM, petani, nelayan, dan pedagang pasar kurang beruntung di Ranah Minang. Sungguh malang nasib mereka bila dipandang dari aspek askes pendanaan atau modal usaha. Beberapa tahun terakhir, kredit perbankan untuk sektor ekonomi rakyat ini malah semakin mengecil. Pada tahun 2006 sebesar 56% dan tinggal hanya 27% tahun 2009. Ketika gempa terjadi, sektor usaha rakyat ini pula yang paling menderita. Masya Allah.

Kita tentunya sangat berharap bahwa di ranah ABS-SBK ini perbankan syariah mampu menjangkau usaha rakyat. Karena itulah hakekatnya sistem ekonomi Rasulullah itu. Tapi ternyata masih jauh panggang dari api. Ketika saya mulai bertugas sebagai Pemimpin Bank Indonesia (BI) Padang bulan Agustus 2009, kredit bank syariah hanya Rp800-an milyar. Sangat kecil. Kantor bank syariah hanya ada di 3 kota saja. Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Mana mungkin orang Minang berbicara tentang ekonomi syariah tanpa perbankan?

Salah satu penyebabnya adalah akibat "salah jua". Bertahun-tahun, perbankan syariah disosialisasikan sebagai bank anti bunga. Ini keliru. Apa lagi bila dilihat dari ilmu marketing. Pertama, penelitian FE-Unand menyatakan bahwa hanya 18,5% urang awak yang mempermasalahkan bunga. Karena rakyat Sumbar sangat rasional. Kedua, sesungguhnya banyak keunggulan lain dari bank syariah. Bukan hanya sekedar anti bunga. Bahkan yang seharusnya dijual di Ranah Minang adalah keunggulan sistem ekonomi syariah. Sistem yang sangat pas untuk Ranah Minang karena ruh dan berbagai prakteknya telah lama tumbuh dalam hidup dan kehidupan urang awak. Ketiga, pemerintah boleh dikatakan tak terlibat dalam mencontohkan ekonomi syariah secara nyata. Kecuali dalam pidato atau baliho.

Banyak sekali contoh-contoh nyata dalam praktek ekonomi dan kehidupan orang Minang yang dilandasi oleh ruh syariah. Saya meyakini Minangkabau itu sendiri adalah syariah. Jadi sangat tepat bila Sumbar dibangun dengan sistem ekonomi syariah disamping sistem konvensional. Melalui Forum Ekonomi Syariah di Harian Padang Ekpres diniatkan untuk mensosialisasikan sistem perekonomian Rasulullah itu. Insya Allah Forum ini akan terbit setiap hari Jumat.

Terima kasih kepada kawan-kawan"nan sasurau". Satu visi untuk membumikan ekonomi syariah di Ranah Minang yang bersedia mendukung Forum ini. Sampai saat ini alhamdulillah ada Prof. DR. Musliar Kasim; Prof. DR.Sirajuddin Zar; Prof. DR. H. Z. Mawardi Effendi, M.Pd; Prof. DR. Salmadanis, MA; Drs. H. Herman Nawas; Prof. DR. Amiur Nurudin, MA; Prof. DR. H. Makmur Syarief, SH, M.Ag; Prof. DR. H. Duski Samad, M.Ag; DR. Syafruddin Karimi; Buya Masoed Abidin; Buya Gusrizal Gazahar, Lc (MUI), H. Julius Said (Dewan Mesjid) dan kawan-kawan dari bank syariah, BPR, BMT dan LKMA serta kawan-kawan saya sesama dosen di IAIN Imam Bonjol. Kita berharap tim ini akan semakin berkembang. Saudaraku yang berminat untuk kegiatan sa-surau ini bisa menghubungi email: forum.ekonomi.syariah@gmail.com. Sungguh banyak yang bisa kerjakan untuk negeri ini.

Untuk itu, kita tentunya sangat patut berterima kasih kepada Padang Ekspres dan khususnya kepada sahabatku, Sutan Zaili Asri, yang menawarkan satu halaman koran ini sebagai media sosialisasi sistem ekonomi syariah. Semoga sejarah akan mencatat bahwa Padang Ekspres menjadi bagian penting dari upaya membumikan ekonomi syariah di Ranah Minang. Terima kasih Sutan Zaili. Terima kasih Padang Ekspres. Terima kasih kawan-kawan Nan Sa-Surau.

DR. Romeo Rissal Pandjialam
Pemimpin Bank Indonesia Padang
Petugas Lapangan Ekonomi Syariah
Selengkapnya »